Empat Syarat Mengambil Manfaat dari Al-Quran
Empat Syarat Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 13 Dzulqa’dah 1447 H / 30 April 2026 M.
Kajian Islam Tentang Empat Syarat Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaf [50]: 37)
Ayat ini menjelaskan satu faedah penting mengenai cara mengambil manfaat dari nasihat kebaikan. Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan sebaik-baik petunjuk serta peringatan bagi manusia. Namun, tidak semua orang mampu mengambil pelajaran darinya. Orang-orang kafir dan munafik pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar Al-Qur’an dan memahami bahasa Arab, bahkan mendengarnya langsung dari sebaik-baik pembimbing, yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Akan tetapi, mereka tetap tidak bisa mengambil pelajaran karena hati mereka tertutup.
Pelajaran dapat diambil sewaktu membaca Al-Qur’an, mendengarkan hadits, atau menyimak kisah keteladanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya:
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 55)
Hal ini menunjukkan bahwa hanya orang beriman yang dapat memetik manfaat dari sebuah peringatan. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan secara ringkas mengenai syarat-syarat mengambil manfaat dari Al-Qur’an. Agar Al-Qur’an menjadi sebab tumbuhnya keimanan, syarat-syarat tersebut harus dipenuhi agar nasihat yang disampaikan tidak menjadi sia-sia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan empat faktor dalam ayat tersebut.
Syarat Pertama: Sumber Pengaruh (Al-Muatstsir)
Faktor pertama adalah adanya sumber pengaruh yang baik. Untuk mendapatkan pengaruh yang baik, diperlukan sumber yang benar. Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan sumber utama yang menguatkan iman.
Ilmu yang bermanfaat harus bersumber dari dalil yang valid. Hadits yang lemah, apalagi palsu, tidak akan pernah bisa menjadi sumber kebaikan bagi manusia. Selain dalil, sosok yang menyampaikan kajian atau seorang ustadz juga menjadi instrumen penting sebagai sumber pengaruh yang menjelaskan wahyu. Mengenai hal ini, Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah memberikan pernyataan yang sangat terkenal:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Ilmu agama tidak boleh diambil dari sembarang orang. Pengambilan ilmu harus berasal dari mereka yang dipercaya, memiliki kapasitas keilmuan yang jelas, dan pernah belajar dari para ulama sebelumnya. Penyampaian ilmu agama harus dipastikan berasal dari orang yang memiliki pemahaman benar. Ilmu agama hendaknya diambil dari sosok terpercaya yang telah memperbaiki diri melalui pelajaran agama tersebut. Kepercayaan ini muncul ketika penyampai ilmu terlihat tulus dalam berdakwah. Meskipun niat seseorang tidak dapat dipastikan secara mutlak, hal itu dapat dinilai dari ciri-ciri, penampilan, serta rekomendasi dari ahli ilmu (ahlul ilmi) lainnya.
Ilmu agama yang disampaikan dengan ikhlas dari dalam hati akan lebih mudah meresap ke dalam jiwa pendengarnya. Imam Muhammad bin Wasi rahimahullah pernah menyatakan:
إِنَّ الذِّكْرَى إِذَا خَرَجَتْ مِنَ الْقَلْبِ وَقَعَتْ فِي الْقَلْبِ
“Sesungguhnya peringatan itu, jika keluar dari hati, maka akan masuk ke dalam hati.” (Kutipan dari para Sahabat)
Oleh karena itu, pengkajian kitab-kitab para ulama sangat ditekankan. Sebaik-baik nasihat adalah yang menukil ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits sahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta ucapan para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajmain. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an untuk memberikan hidayah dan menjelaskan jalan yang lurus kepada manusia. Demikian pula peran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura [42]: 52)
Keutamaan Ucapan Ulama Salaf
Ucapan manusia biasa tidak akan mampu menandingi keindahan dan kemanfaatan ayat Al-Qur’an, hadits sahih, serta perkataan para sahabat. Ucapan para sahabat radhiyallahu ‘anhum disampaikan dengan niat ikhlas untuk menegakkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika salah seorang ulama terdahulu ditanya mengenai alasan mengapa ucapan para salaf lebih bermanfaat dibandingkan ucapan generasi sekarang, beliau menjawab:
لأَنَّهُمْ تَكَلَّمُوا لِعِزِّ الإِسْلامِ ، وَنَجَاةِ النُّفُسِ ، وَرِضَا الرَّحْمَنِ ، وَنَحْنُ نَتَكَلَّمُ لِعِزِّ النَّفْسِ ، وَطَلَبِ الدُّنْيَا ، وَرِضَا الْخَلْقِ
“Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa, dan keridaan Allah Ar-Rahman. Sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri sendiri, mencari dunia, dan keridaan makhluk.” (Al-Bayhaqi berkata dalam Al-Madkhal ila ‘Ilm al-Sunan (42/1)
Perbedaan niat ini sangat mempengaruhi dampak dari kalimat yang disampaikan. Keikhlasan akan membawa kemuliaan di akhirat, sedangkan niat yang menyimpang hanya akan menghasilkan popularitas fana dan keridaan manusia semata.
Syarat kedua: Kehidupan Hati Penerima Nasihat
Seseorang dapat mengambil manfaat dari Al-Qur’an adalah memiliki hati yang hidup. Al-Qur’an hanya berfungsi sebagai peringatan bagi mereka yang hatinya masih memiliki kehidupan. Orang kafir dan munafik tidak mampu mengambil manfaat dari Al-Qur’an meskipun mereka memahami bahasa Arab dan mendengar penjelasan langsung dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini dikarenakan hati mereka telah tertutup dan terkunci. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24)
Upaya pembersihan hati dan penyucian jiwa merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman yang menginginkan peningkatan iman setiap kali membaca Al-Qur’an maupun mempelajari hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hati yang bersih dan hidup adalah prasyarat utama untuk menerima hidayah. Ciri-ciri orang beriman ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal [8]: 2)
Al-Qur’an diturunkan sebagai sebaik-baik petunjuk untuk memberikan peringatan dan nasihat. Tujuannya adalah menguatkan iman sekaligus mengobati serta membersihkan berbagai penyakit hati. Setelah hati menjadi bersih dari noda, kebaikan yang menyempurnakan iman akan lebih mudah meresap. Mempelajari Al-Qur’an dengan merenungkan isinya untuk mengobati batin merupakan salah satu fungsi terbesar diturunkannya kitab suci ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)
Setiap hamba membutuhkan Al-Qur’an untuk memperbaiki kekurangan diri dan menyiapkan hati agar siap menerima tambahan iman secara berkelanjutan.
Syarat ketiga: Konsentrasi Pendengaran dan Pemahaman Bahasa
Dalam mengambil manfaat dari wahyu adalah mengkonsentrasikan pendengaran. Seseorang perlu berusaha sungguh-sungguh mendengarkan sumber pengaruh yang baik. Meskipun seseorang memiliki hati yang hidup dan tersedia sumber kebaikan di hadapannya, pengaruh tersebut tidak akan masuk jika tidak ada upaya untuk menghubungkan hati dengan sumber tersebut.
Mendengarkan bacaan Al-Qur’an serta berusaha memahami maknanya, meskipun melalui terjemahan, merupakan langkah awal yang sangat penting. Namun, upaya belajar bahasa Arab sangat dianjurkan agar pesan Ilahi dapat meresap secara langsung ke dalam hati saat ayat-ayat tersebut dikumandangkan. Al-Qur’an diturunkan dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diucapkan dalam bahasa Arab sebagai bahasa pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tanpa pemahaman bahasa, sulit bagi pesan-pesan tersebut untuk memberikan pengaruh yang mendalam pada jiwa manusia.
Menghadiri majelis ilmu merupakan sarana utama untuk mendapatkan kebaikan dari pelajaran iman, tauhid, maupun fikih ibadah. Meskipun aktivitas membaca dapat dilakukan di rumah, menghadiri majelis ilmu secara langsung memiliki keutamaan karena seseorang dapat menyimak dengan konsentrasi penuh serta bertanya langsung kepada ustaz mengenai hal-hal yang belum dipahami.
Langkah ini adalah cara paling efektif untuk menghubungkan hati dengan sumber pengaruh kebaikan. Setelah memilih pengajar yang tepat dan mengkaji kitab-kitab karya ulama Ahlussunnah Waljamaah, usaha selanjutnya adalah mendatangi majelis ilmu, terutama yang diadakan di masjid. Di sana, seorang hamba dapat menimba ilmu demi perbaikan diri dan meluruskan pemahaman yang masih keliru.
Syarat Keempat: Kehadiran Hati dan Konsentrasi
Syarat penting dalam menimba ilmu adalah hadirnya jiwa dan raga secara utuh. Seseorang tidak boleh lalai atau membiarkan pikirannya terpecah saat berada di majelis ilmu. Ketika hati telah terbuka untuk menerima kebaikan, pikiran harus tetap fokus saat mendengarkan Al-Qur’an dibacakan atau saat merenungkan isinya. Manfaat dari sebuah ilmu mustahil didapatkan jika pikiran seseorang tidak terkonsentrasi pada apa yang disampaikan di hadapannya.
Apabila empat faktor tersebut terpenuhi, manfaat Al-Qur’an dalam menguatkan iman dan mengisi hati dengan kebaikan akan didapatkan secara sempurna. Orang yang menyempurnakan faktor-faktor ini sebagaimana disebutkan dalam surah Qaf ayat 37 adalah mereka yang paling berhak mengambil pelajaran dari Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka adalah golongan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka.” (QS. Al-Anfal [8]: 2)
Tafsir Akhir Surah Qaf: Peristiwa Hari Kiamat
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup surah Qaf dengan menyebutkan peristiwa hari kiamat. Pada hari tersebut, penyeru akan memanggil roh-roh untuk dikembalikan ke dalam jasad manusia di Padang Mahsyar. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan balasan yang menimpa jiwa sekaligus raga manusia secara menyeluruh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa seruan ini berasal dari tempat yang dekat sehingga dapat didengar oleh seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِن مَّكَانٍ قَرِيبٍ . يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ
“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya. Itulah hari keluar (dari kubur).” (QS. Qaf [50]: 41-42)
Panggilan tersebut merupakan kebenaran yang nyata, menandai awal dari hari kebangkitan di mana setiap manusia akan keluar dari kuburnya untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan selama di dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan peristiwa dahsyat yang terjadi pada hari kiamat. Pada hari itu, manusia akan mendengar teriakan yang benar untuk kebangkitan mereka. Roh akan dikembalikan ke dalam jasad agar manusia dapat bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Peristiwa ini merupakan hari keluarnya manusia dari perut bumi.
Pada saat itu, bumi terbelah dan mengeluarkan manusia. Mereka dibangkitkan dari kubur bagaikan tanaman yang tumbuh membelah tanah. Manusia akan keluar dengan sangat cepat tanpa tertunda sedikit pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan kemudahan proses pengumpulan manusia tersebut dalam firman-Nya:
يَوْمَ تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ سِرَاعًا ۚ ذَٰلِكَ حَشْرٌ عَلَيْنَا يَسِيرٌ
“(Yaitu) pada hari ketika bumi terbelah membelah mereka dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.” (QS. Qaf [50]: 44)
Perubahan Bentuk Bumi dan Langit
Keadaan bumi pada hari kebangkitan tidak lagi sama dengan bumi yang dikenal saat ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengubah bentuk bumi dan langit, menjadikannya rata tanpa ada dataran tinggi maupun lembah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” (QS. Ibrahim [14]: 48)
Seluruh manusia kemudian berjalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berkumpul di Padang Mahsyar guna mempertanggungjawabkan perbuatan masing-masing.
Manusia dibangkitkan dalam keadaan sebagaimana mereka diciptakan pertama kali. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan hal ini dalam sebuah hadits:
يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا
“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mendengar hal tersebut, Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya mengenai kemungkinan laki-laki dan perempuan saling melihat satu sama lain. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian memberikan pernyataan bahwa kengerian pada hari kiamat sangat besar sehingga mereka tidak sempat memikirkan hal tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ
“Keadaan pada hari itu jauh lebih berat daripada sekadar keinginan mereka untuk saling melihat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Saat mengalami peristiwa yang sangat dahsyat tersebut, setiap individu hanya terfokus pada nasib sendiri dan bagaimana cara mempertanggungjawabkan perbuatan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kesadaran pada Hari Kebangkitan
Hari kebangkitan merupakan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pasti terjadi. Pada saat itu, manusia, terutama mereka yang dahulu ingkar, akan menyadari bahwa apa yang dijanjikan telah menjadi kenyataan di hadapan mereka. Setiap individu akan sibuk memikirkan cara mempertanggungjawabkan perbuatan masing-masing di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk ucapan para pendusta yang menolak petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
…نَّحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُون
“Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan.” (QS. Qaf [50]: 45)
Hal ini menunjukkan kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menetapkan balasan yang adil. Tidak ada satupun yang tersembunyi bagi-Nya, baik ucapan yang disampaikan secara berbisik maupun rahasia. Semua akan mendapatkan balasan yang sempurna di akhirat, sebagaimana catatan amal yang tidak melewatkan perkara sekecil apa pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا
“Kitab apakah ini, yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 49)
Tugas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Fungsi Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak diutus untuk memaksa manusia memeluk Islam. Beliau tidak memiliki otoritas untuk memaksakan kehendak atau menguasai mereka agar menerima agama ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِجَبَّارٍ
“Dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka.” (QS. Qaf [50]: 45)
Tugas utama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah memberikan peringatan melalui Al-Qur’an. Peringatan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang takut terhadap ancaman azab Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hanya merekalah yang dapat mengambil manfaat dari nasihat tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ
“Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapa pun yang takut kepada ancaman-Ku.” (QS. Qaf [50]: 45)
Adapun orang-orang yang tidak mengimani pertemuan dengan Allah, tidak takut akan ancaman-Nya, serta tidak mengharapkan pahala-Nya, maka peringatan tersebut tidak akan memberikan pengaruh bagi mereka.
Keagungan Surah Qaf dalam Kehidupan
Penjelasan tafsir surah Qaf dari awal hingga akhir yang disampaikan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengandung faedah yang sangat besar. Mengingat kandungan maknanya yang agung, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering membacakan surah ini dalam khotbah Jumat. Hal ini menyebabkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, di antaranya ada yang sampai menghafalnya karena sering mendengarkan bacaan beliau.
Al-Qur’an adalah sebaik-baik pedoman hidup untuk meniti jalan yang lurus. Melalui pemahaman terhadap surah yang mulia ini, seorang hamba diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan dan keistikamahan di atas jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Empat Syarat Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56208-empat-syarat-mengambil-manfaat-dari-al-quran/